Rabu, 14 Mei 2014

Perbedaan Rumah Adat Jepara dengan Rumah Adat Kudus

Filosofi Joglo Jepara

Rumah Adat Joglo Jepara
Joglo Jepara adalah Rumah Adat Jepara merupakan salah satu rumah tradisional yang mencerminkan perpaduan akulturasi kebudayaan masyarakat Jepara. Rumah Adat Jepara memiliki atap genteng yang disebut “Atap Wuwungan”. Jenis bangunan ini merupakan bangunan tradisional di daerah Jepara dan sampai saat ini masih banyak dijumpai. Ciri khusus arsitektur bangunan ini adalah :
* Bahan bangunan terbuat dari kayu dengan dinding kayu berukir
* Memiliki 4 buah tiang di tengah bangunan
* Atap dari genting dan khusus kerpus memiliki motif gambar wayang.Adapun konsep falsafah dari bangunan joglo ini adalah:
  -  Menghadap ke laut dengan maksud agar berpikiran luas
  - Membelakangi gunung dengan maksud agar tidak congkak dan tinggi hati
  - Atap berujud pegunungan dengan maksud religius yaitu Tuhan di atas dan berkuasa atas segalanya.
  - Tiga buah pintu di depan merupakan perwujudan hubungan antara : Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan manusia, Manusia dengan alam
  - Tiga wuwungan atap tidak patah tetapi melengkung yang mempunyai maksud sebagai perwujudan cara hidup yang luwes.

Filosofi Joglo Kudus


Rumah Adat Joglo Kudus
Keunikan dan keistimewaan Rumah Adat Kudus (Joglo Kudus) tidak hanya terletak pada keindahan arsitekturnya yang didominasi dengan seni ukir, tetapi juga pada kelengkapan komponen-komponen pembentuknya yang memiliki makna filosofis berbeda-beda. Rumah Adat Kudus memiliki atap genteng yang disebut “Atap Pencu”

    Pertama, bentuk dan motif ukirannya mengikuti pola kala (binatang sejenis laba-laba berkaki banyak), gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan lain-lain.
    Kedua, tata ruang rumah adat yang memiliki jogo satru/ruang tamu dengan soko geder-nya/tiang tunggal sebagai simbol bahwa Allah SWT bersifat Esa/Tunggal.
    Ketiga, gedhongan dan senthong/ruang keluarga yang ditopang empat buah soko guru/tiang penyangga. Keempat tiang tersebut adalah simbol yang memberi petunjuk bagi penghuni rumah supaya mampu menyangga kehidupannya sehari-hari dg mengendalikan 4 sifat manusia: amarah, lawwamah, shofiyah, dan mutmainnah.
    Keempat, pawon/dapur di bagian paling belakang bangunan rumah.
    Kelima, pakiwan (kamar mandi) sebagai simbol agar manusia selalu membersihkan diri baik fisik maupun ruhani.
    Keenam, tanaman di sekeliling pakiwan, antara lain: pohon belimbing, yang melambangkan lima rukun Islam; pandan wangi, sebagai simbol rejeki yang harum/halal dan baik bunga melati, yang melambangkan keharuman, perilaku yang baik dan budi pekerti luhur, serta kesucian, besambung ke hal berikutnya.

Perbedaan Joglo Jepara dengan  Joglo Kudus

- Atap Joglo Jepara disebut Atap Wuwungan, sedangkan Joglo Kudus disebut Atap Pencu.
- Joglo Kudus mirip dengan Joglo Jepara tetapi perbedaan yang paling kelihatan adalah bagian pintunya, Joglo Kudus memiliki 1 pintu sedangkan Joglo Jepara memiliki 3 pintu
- dll

1 komentar: